PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA
E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajarBerdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat. Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1. Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2. Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Pengembangan model e-learning dapat dibagi menjadi 3 diantaranya web course, web centric course dan enhanced course.
a. Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidakan, yang mana mahasiswa dan dosen sepenuhnya terpisah juga tidak bertatap muka secara langsung. Segala yang berhubungan dengan pengajaran seperti bahan, konsultasi, penugasan, latihan, ujian dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disampaikan melalui internet.
b. Web centric course adalah pengguanaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dengan pembelajaran langsung atau bertatap muka (konvensional). Dengan model pembelajaran ini maka sebagian materi belajar disampaikan memalui internat dan sebagian disampaikan saat bertatap muka, selain itu mahasiswa bisa mencari materi-materi belajar dari sumber lainny, yaitu situs-situs yang relevan.
c. Web enhanced course adalah penggunaan internet pada model ini hanyalah untuk menunjang kualitas pembelajaran didalam kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara mahasiswa dengan dosen, sesama mahasiswa, anggota kelompok dan mahasiswa dengan narasumber lainnya. Oleh karena itu dibutuhkan kecakapan dosen dalam menguasai teknik dalam mencari dan menemukan situs-situs internet, membimbing mahasiswa untuk mencari situs-situs yang relevan dengan perkuliahan, penyajian materi melalui web dengan menarik, melayani dan membimbing melalui internet dan lain sebagainya.
Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).
a. Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan.
Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.
b. Kelebihan dan Kekurangan E-learning
Kelebihan e-learning diantaranya:
a. Tersedianya fasilitas e-moderating dimana pengajar dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
b. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja apabila diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
c. Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, maka siswa dapat melakukan akses di internet.
d. Baik pengajar maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.
e. Berubahnya peran siswa dari yang pasif menjadi aktif.
f. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari Perguruan Tinggi atau sekolah konvensional dapat mengaksesnya.
Kekurangan dari model pembelajaran e-learning:
a. Kurangnya interaksi guru dengan siswa dan atar sesama siswa.
b. Proses lebih cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
c. Guru dituntut tidak hanya mengetahui cara belajar secara konvensional tetapi juga harus mengetahui tehnik belajar ICT.
d. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar tinggi maka akan cenderung gagal.
e. Tidak semua tempat memiliki akses internet.
f. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan dalam pengoprasian komputer dan internet.
g. Kurangnya penguasaan personal dalam bahasa pemograman computer.
Apakah guru harus mengerti atau paham mengenai e-learning ? Apaada dampaknya bagi siswa jika guru tidak tau apa itu e-learning ??
BalasHapusKalau menurut saya guru sebelum menggunakan elearning dalam pembelajaran maka si guru memang harus betul-betul memahami nya, kalau tidak maka pembelajaran tidak akan maksimal dan murid tidak akan mengerti dengan materi yang di sampaikan.
Hapussaya ingin menambahkan materi yang telah saudari posting, yaitu sebgai berikut :
BalasHapusDAMPAK E-LEARNING
Para pelajar merasakan sensasi belajar yang benar-benar berbeda dibandingkan kelas konvensional. Akses mereka terhadap informasi juga meningkat dengan drastis. Selain itu, para pelajar juga dapat memilih sendiri cara belajar yang dirasa paling cocok dengan kepribadian mereka ketika mengikuti kelas e-learning. Para pendidik merasakan dampak dari penggunaan e-learning terhadap metode pengajaran yang digunakan. Mereka perlu melakukan adaptasi dalam cara pengajaran yang disampaikan yang tentunya berbeda dengan metode konvensional. Selain itu juga diperlukan keahlian dalam menyediakan materi pembelajaran yang menarik untuk digunakan melalui sistem e-learning dan menggunakan fitur-fitur yang disediakan pada sistem e-learning dengan optimal dan efisien. Institusi pendidikan juga merasakan dampak dari penggunaan e-learning, khususnya dalam hal biaya penyelenggaraan pendidikan. Institusi juga bertanggung jawab untuk mengadakan pelatihan kepada para tenaga pengajarnya dan menyediakan teknologi atau media yang menjadi landasan dari sistem e-learning yang digunakan.Segi pembiayaan adalah salah satu perhatian utama bagi pihak yang. Adanya masalah biaya ini menyebabkan beberapa institusi pendidikan yang memiliki keterbatasan finansial memilih untuk bekerja sama dengan institusi pendidikan lain atau perusahaan penyedia layanan pengembangan sistem e-learning
Terimakasih atas penambahan materinya ismi.
Hapusassalm mualaikum wr wb saya inggin menanyakan bagaimana cara kita apabila kita ditugaskan di sekolah yang minim dg sosmed nah apakah kita dapat menerapkan di sekolah tersebut dengan kekuranggan tersebut?
BalasHapusBaiklah saya akan menjawab pertanyaan saudari tesa, di materi dijelaskan E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di lembaga pendidikan.nah jadi apabila di suatu sekolah tidak ada internet jadi tudak bisa menggunakan media pembelajaran elearning di sekolah tersebut.
Hapusassalamualaikumm saya ingin membantu menjawab pertanyaan dari saudara tesa, menurut saya kita tidak dapat menerapkan e-learning di sekolah yang kurang memiliki fasilitas akses internet, dikarenakan kita ketahui bahwa e-learning merupakan pembelajaran yang berbasis IT yang tentunya memerlukan akses internet yang cukup memadai,jika sekolah tsb tidak memiliki akses internet maka e-learning tidak dapat diterapkan,terimakasih
HapusTerimakasih sudah membantu menjawab dinda.
HapusSaya ingin bertanya apakah e-learning sudah banyak di terapkan?
BalasHapusSaya ingin bertanya apakah e-learning sudah banyak di terapkan?
BalasHapussaya akan mencoba menjawab , E-learning telah banyak digunakan terutama untuk mahasiswa dan kini diikuti oleh siswa disekolah , digunakan elearning karena memudahkan sisswa dan jga guru , terimakasih
HapusTerimakasih atas bantuan jawabannya ayu.
HapusSaya setuju dengan saudari ayu, elearning sudah banyak digunakan di sekolah, misalnya siswa yang sudah ada akses internet. Terimakasih
Hapussaya ingin bertanya pada pengembangan e learning dalam pembelajaran kimia, itu pasti memiliki dampak negatif dan juga positif nya, tolong jelaskan?
BalasHapusDampak positif e-learning diantaranya:
Hapusa. TKelebihan e-learning diantaranya:
a. Tersedianya fasilitas e-moderating dimana pengajar dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
b. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja apabila diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
c. Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, maka siswa dapat melakukan akses di internet.
d. Baik pengajar maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.
e. Berubahnya peran siswa dari yang pasif menjadi aktif.
f. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari Perguruan Tinggi atau sekolah konvensional dapat mengaksesnya.
Dampak negatif dari model pembelajaran e-learning:
a. Kurangnya interaksi guru dengan siswa dan atar sesama siswa.
b. Proses lebih cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
c. Guru dituntut tidak hanya mengetahui cara belajar secara konvensional tetapi juga harus mengetahui tehnik belajar ICT.
d. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar tinggi maka akan cenderung gagal.
e. Tidak semua tempat memiliki akses internet.
f. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan dalam pengoprasian komputer dan internet.
g. Kurangnya penguasaan personal dalam bahasa pemograman computer.ersedianya fasilitas e-moderating dimana pengajar dan siswa dapat berkomunikasi secara mudah melalui fasilitas internet secara reguler atau kapan saja kegiatan berkomunikasi itu dilakukan tanpa dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
b. Siswa dapat belajar (me-review) bahan ajar setiap saat dan dimana saja apabila diperlukan mengingat bahan ajar tersimpan di komputer.
c. Bila siswa memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, maka siswa dapat melakukan akses di internet.
d. Baik pengajar maupun siswa dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.
e. Berubahnya peran siswa dari yang pasif menjadi aktif.
f. Relatif lebih efisien. Misalnya bagi mereka yang tinggal jauh dari Perguruan Tinggi atau sekolah konvensional dapat mengaksesnya.
Kekurangan dari model pembelajaran e-learning:
a. Kurangnya interaksi guru dengan siswa dan atar sesama siswa.
b. Proses lebih cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
c. Guru dituntut tidak hanya mengetahui cara belajar secara konvensional tetapi juga harus mengetahui tehnik belajar ICT.
d. Siswa yang tidak memiliki motivasi belajar tinggi maka akan cenderung gagal.
e. Tidak semua tempat memiliki akses internet.
f. Kurangnya tenaga yang mengetahui dan memiliki keterampilan dalam pengoprasian komputer dan internet.
g. Kurangnya penguasaan personal dalam bahasa pemograman computer.